RUANGKALTIM.COM, KUTIM — Kabupaten Kutai Timur bersiap menyambut lonjakan pertumbuhan ekonomi baru melalui masuknya investasi bernilai fantastis di sektor hilirisasi industri. Tidak tanggung-tanggung, daerah yang kaya akan sumber daya alam ini berhasil memikat nilai investasi jumbo sebesar Rp71 triliun yang diproyeksikan bakal menyerap puluhan ribu tenaga kerja.
Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, mengungkapkan bahwa proyek besar pertama yang telah dimulai adalah industri gasifikasi batu bara menjadi metanol. Proyek dengan nilai investasi mencapai Rp41 triliun tersebut telah melalui proses peletakan batu pertama (groundbreaking) oleh Wakil Menteri ESDM dan ditargetkan rampung pada tahun 2029, sehingga siap berproduksi secara komersial pada tahun 2030.
Tak berhenti di situ, sinyal positif investasi juga datang dari Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy. Berdasarkan laporan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kutim, investasi sejenis berbasis gasifikasi batu bara dengan nilai sekitar Rp30 triliun dipastikan segera masuk dan melakukan groundbreaking dalam waktu dekat.
“Artinya dalam kurun waktu 4 hingga 5 tahun mendatang, Kutai Timur mendapatkan investasi yang sangat besar, yakni mencapai Rp71 triliun. Nah, mudah-mudahan ini menjadi peluang emas bagi penyerapan tenaga kerja lokal kita di Kabupaten Kutai Timur,” ujar orang nomor satu di Kutim itu.
Guna memastikan gelombang investasi ini tidak sekadar menjadikan warga lokal sebagai penonton, Bupati bergerak cepat memberi instruksi khusus kepada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kutim. Pemerintah daerah diminta proaktif membangun komunikasi dengan para investor agar memprioritaskan kuota pekerja lokal, sekaligus menyiapkan program pelatihan khusus agar tenaga kerja daerah benar-benar siap pakai sesuai kualifikasi industri.
“Saya sedang perintahkan kepada Kepala Disnakertrans untuk segera melakukan komunikasi dengan perusahaan tersebut untuk memberikan kesempatan kepada tenaga kerja lokal kita dan kita siap untuk mendidik mereka menjadi tenaga kerja yang siap pakai,” tegasnya.
Langkah ini sejalan dengan komitmen Pemkab Kutim yang terus mengawal program strategis penyerapan 50.000 tenaga kerja. Untuk merealisasikannya, Pemkab Kutim menjalankan tiga strategi utama. Pertama, menyiapkan tenaga kerja berdaya saing tinggi melalui optimalisasi Balai Latihan Kerja (BLK) Mandiri serta kemitraan dengan berbagai lembaga pelatihan kerja profesional.
Kemudian, menguatkan sektor wirausaha mandiri dan industri kreatif melalui dukungan permodalan usaha. Terakhir, menjaga stabilitas dan keamanan daerah agar investor merasa aman serta terdorong membuka sebanyak mungkin lapangan kerja.
Melalui perpaduan investasi hilirisasi berskala global dan kesiapan SDM lokal yang mumpuni, Pemkab Kutim optimistis kemajuan industri ini akan membawa lompatan kesejahteraan yang nyata dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Kutai Timur. (adv/yp)










