
RUANGKALTIM.COM, KUTIM — Jangan biarkan sejarah daerah terbelokkan oleh waktu dan narasi yang keliru. Pesan mendalam dan penuh penekanan ini disampaikan oleh Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi, saat memberikan sambutan dalam kegiatan Workshop Storytelling dan Digital Content Sejarah Lokal yang diinisiasi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim.
Di hadapan para pelajar dan generasi muda yang hadir, Mahyunadi mengapresiasi langkah progresif Disdikbud. Ia mengingatkan agar kegiatan pelatihan semacam ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan yang habis di atas kertas pertanggungjawaban anggaran.
Lebih dari itu, acara ini harus menjadi wadah nyata yang membekali peserta dengan pengetahuan, ilmu, serta semangat membara untuk berkarya bagi Kabupaten Kutai Timur.
“Tapi acara ini harus bisa memberi manfaat kepada kita Kabupaten Kutai Timur secara umum, khususnya memberi manfaat bagi peserta yang nantinya akan menjadi talent, menjadi bakat untuk menyampaikan teori terhadap sejarah Kutai Timur,” ujar Mahyunadi (9/9/2026).
Dalam arahannya, ia membeberkan alasan krusial mengapa penguasaan sejarah lokal menjadi sangat penting bagi anak muda. Menurutnya, perjalanan sejarah tidak selalu berjalan lurus dan kerap kali mengalami pergeseran makna atau pembelokan fakta jika tidak dijaga oleh generasi yang peduli. Oleh karena itu, kehadiran para peserta dalam workshop ini diorientasikan untuk memegang peranan penting sebagai pelurus informasi sejarah, yang digali langsung dari sumber yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Kenapa menjadi penting? Karena sejarah itu tidak ada yang lurus. Sejarah itu sering terbelokkan. Maka acara hari ini penting untuk generasi muda untuk meluruskan sejarah,” tegasnya.
Tidak berhenti pada penyampaian lisan atau konten digital semata, Mahyunadi berharap ilmu yang diserap dari para narasumber ahli nantinya dapat didokumentasikan secara permanen dalam bentuk karya tulis literatur berupa buku pegangan yang otentik.
“Saya ingin sejarah yang kita pelajari, didapatkan dari sumber yang lurus dan benar. Bukan sejarah yang terbelok-belok. Benar berdasarkan aturan dan tidak serta-merta hanya menjadi storytelling, tapi menjadi sebuah karya yang bermanfaat bagi orang lain,” imbuhnya.
Di penghujung arahannya, Wabup Mahyunadi membakar semangat para peserta agar memaksimalkan kesempatan emas tersebut. Ia berharap para pelajar yang hadir tidak hanya berhenti sebagai penyampai cerita, melainkan kelak mampu tumbuh menjadi sejarawan muda yang menorehkan sejarah baru bagi kemajuan Kutai Timur.
“Saya berharap suatu saat kita yang menorehkan sejarah baru terhadap Kutai Timur ini,” pungkasnya penuh optimisme. (adv/yp)










