RUANGKALTIM.COM, KUTIM – Semangat gotong royong itu tumbuh kembali dari sesuatu yang sederhana, yakni sayuran di pekarangan rumah. Di balik gerakan kecil yang kini diikuti ratusan warga itu, terdapat sosok Joko Purnomo, kepala dusun sekaligus Ketua Kelompok Mekar Jaya Tunas Etam di Desa Pengadan, Kecamatan Karangan, Kabupaten Kutai Timur.
Perjalanan hidup Joko tidak selalu mudah. Ia pernah bekerja sebagai operator buldoser, hingga berjualan buah keliling. Namun kecintaannya pada berkebun selalu dibawanya ke mana pun ia pergi.
Bersama istrinya, Dina Sustiani, Joko membangun kehidupan sederhana sambil membesarkan dua anak mereka. Di sela-sela kesibukan bekerja, ia tetap menyalurkan hobinya berkebun dan bermain catur.
Motto hidupnya sederhana, “Di mana kita tinggal, kita harus bisa bermanfaat bagi sesama.”
Prinsip itulah yang membuat warga mempercayainya memimpin Kelompok Mekar Jaya Tunas Etam, yang berdiri pada 20 November 2025 dengan 42 anggota.

Melalui kelompok ini, Joko mengajak warga menanam sayuran hortikultura, membuat pupuk organik cair (POC), meracik mikro organisme lokal (MOL), hingga memproduksi keripik tempe dan keripik pisang.
Namun baginya, yang paling penting bukan hanya hasilnya. Melainkan proses kebersamaan di baliknya.
“Tantangan terbesar adalah mengajak masyarakat mau bekerja bersama. Menggerakkan kembali budaya gotong royong,” ujarnya.
Untuk itu, Joko tidak lelah memberi motivasi dan edukasi tentang manfaat kegiatan kelompok. Ia menunjukkan bahwa kebun kecil di pekarangan bisa menyediakan sayuran organik segar yang dapat mendukung kesehatan dan ketahanan pangan keluarga. Bahkan mengurangi pengeluaran finansial keluarga.
Selain itu, ia juga bersyukur karena adanya PT Indexim Coalindo yang intensif mendampingi warga melalui program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Bahkan secara perlahan, hasilnya mulai terlihat. Ya, 120 kepala keluarga di Desa Pengadan kini mulai menanam sayuran dengan sistem polibag di sekitar rumah mereka.
Kini, setiap kali warga berkumpul, topik pembicaraan mereka sering kali bukan lagi sekadar obrolan biasa, melainkan teknik menanam, jenis pupuk, atau cara merawat tanaman. Bagi Joko, perubahan kecil ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar, yaitu masyarakat desa yang mandiri, saling membantu, dan kembali menemukan makna gotong royong.
“Harapan saya, kelompok ini terus berkarya dan menggerakkan masyarakat menuju mandiri, unggul, dan sejahtera,” pungkas Joko. (rk)









