RUANGKALTIM.COM, KUTIM – Remaja masa kini dihadapkan pada gelombang tantangan yang kian kompleks. Mulai dari bayang-bayang pergaulan bebas, ancaman perundungan (bullying), hingga persoalan klasik yang kian mendesak seperti pernikahan usia anak. Di titik inilah dunia pendidikan dituntut untuk hadir sebagai kompas moral sekaligus pelindung utama bagi para siswa.
Berangkat dari kesadaran tersebut, SMPN 3 Sangatta Utara membuktikan komitmen nyatanya. Dibawah kepemimpinan Daud Boro Patoding, sekolah ini sukses menghelat kegiatan Pengimbasan Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) di SMPN 3 Sangatta Utara pada 29 Juli 2026.
Bukan sekadar ajang sosialisasi biasa, kegiatan ini dirancang sebagai ruang kolaborasi strategis untuk membagikan resep sukses dan praktik baik (best practices) yang selama ini terbukti efektif diterapkan di SMPN 3 Sangatta Utara.
“Pendidikan hari ini bukan lagi sekadar mengejar angka kecerdasan, melainkan tentang bagaimana kita membentuk karakter dan menyelamatkan masa depan anak-anak dari arus tantangan zaman.” Kata Daud Boro Patoding, Kepala Sekolah SMPN 3 Sangatta Utara.
Suasana hangat dan interaktif langsung terasa sejak sesi pembukaan. Acara kemudian berlanjut dengan sesi berbagi strategi, diskusi mendalam, hingga pembekalan langsung yang menyasar dua pilar utama sekolah, para guru dan siswa.
Tidak hanya dicekoki teori, para pendidik di SMPN 3 Sangatta Utara diajak langsung menyusun modul pembelajaran kreatif. Mereka dilatih meramu isu kependudukan, kesehatan reproduksi, dan pencegahan pernikahan dini agar terintegrasi secara natural ke dalam kegiatan belajar-mengajar sehari-hari. Pendekatan ini dibuat lebih kontekstual dan ramah remaja.


Para pelajar didorong untuk keluar dari zona nyaman dan bertransformasi menjadi agen perubahan (agent of change) . Mereka dibekali pelatihan intensif untuk menjadi konselor sebaya, didorong aktif dalam wadah Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), serta disiapkan mentalnya untuk menjadi pelopor kebaikan di lingkungan sekolah masing-masing.
Melalui langkah pengimbasan ini, Daud Boro Patoding berharap gerakan positif tidak berhenti di satu titik saja. Sinergi antarlembaga pendidikan di Kutai Timur ini diyakini mampu memperluas jangkauan perlindungan dan pembinaan karakter remaja secara masif.
“Ketika sekolah, guru, dan siswa bergerak seirama, maka benteng perlindungan terhadap generasi muda akan semakin kokoh. Sebab, masa depan bangsa yang gemilang tidak lahir begitu saja, ia dimulai dari ketulusan pendampingan yang kita berikan kepada anak-anak muda hari ini. Mari terus bergerak, berkolaborasi, dan menginspirasi.”tutupnya (yp/rk)










