RUANGKALTIM.COM, KUTIM — Komitmen Kabupaten Kutai Timur dalam mewujudkan lingkungan yang ramah dan aman bagi generasi penerus terus diuji. Di tengah upaya memperkuat predikat Kabupaten Layak Anak (KLA), pemerintah daerah dihadapkan pada sejumlah tantangan krusial yang menahan posisi Kutim di kategori Madya.
Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Kutai Timur, Rita Winarni, membeberkan rekam jejak capaian daerah dalam evaluasi KLA yang mengacu pada lima klaster indikator utama.
“Jadi kan ini sudah tahun kelima ya. Tahun pertama, tahun kedua itu kita dapat peringkat di Pratama. Kemudian tahun berikutnya di Madya. Sebenarnya target kita tahun lalu itu di Madya, cuman kemarin itu kita kurang berapa poin, jadi kita stagnan di Madya,” ungkap Rita.
Dalam jenjang penilaian KLA yang terbagi ke dalam lima kategori, yakni Pratama, Madya, Nindya, Utama, hingga predikat Kabupaten Layak Anak paripurna. Kutim saat ini masih kokoh berada di level Madya.
Meski telah menunjukkan progres positif dari tahun-tahun sebelumnya, Rita tak menampik bahwa daerahnya sempat terpaut tipis dari target peningkatan akibat beberapa indikator krusial yang masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Kata dia, selisih poin yang terbilang kecil tersebut, tergerus oleh tingginya angka anak putus sekolah, anak tidak sekolah, serta kasus pernikahan usia dini di wilayah Kutai Timur.
“Jatuhnya kecil aja sih, 3,5 poin gitu. Cuman gitu tadi. Makanya posisi kita ada di Madya,” jelasnya.
Evaluasi ini menjadi catatan penting bagi Pemkab Kutim untuk memperketat lintas sektor pengentasan persoalan sosial anak. Penanganan komprehensif mulai dari menekan angka putus sekolah hingga pencegahan pernikahan dini di akar rumput mutlak diperlukan, agar pada penilaian periode berikutnya Kutai Timur mampu menembus kategori yang lebih tinggi menuju kabupaten yang benar-benar layak bagi anak. (adv/yp)









