RUANGKALTIM.COM, KUTIM – Era digitalisasi birokrasi di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus digenjot naik level. Pemerintah kabupaten melalui Dinas Komunikasi dan Informatika Persandian dan Statistik (Diskominfo Persik), secara resmi menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Optimalisasi Website dan Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk pelayanan masyarakat.
Pelatihan intensif yang berlangsung selama dua hari ini, diikuti 66 peserta dari berbagai desa di Kutim. Agenda ini merupakan lanjutan dari tahap pertama yang sebelumnya telah sukses membekali 72 peserta, dengan menghadirkan narasumber ahli Fajar Iswahyudi dari Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (LAN RI).
Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, yang hadir memberikan sambutan, menekankan bahwa transformasi digital bukan lagi sekadar pilihan. Melainkan keharusan mutlak dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang efektif, efisien, terampil, dan aman. Ia mengapresiasi langkah cepat Diskominfo yang sigap beradaptasi dengan disrupsi teknologi saat ini.
“Transformasi digital merupakan bagian penting dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang efektif, efisien, terampil, aman. Tapi tentunya untuk mewujudkan hal tersebut, saya sangat senang bahwa Dinas Kominfo telah adaptif terhadap perubahan yang ada di negara sekarang, termasuk utamanya perubahan teknologi,” ujar Mahyunadi, Rabu (2/9/2026).
Menurutnya, para pelayan administrasi publik dituntut memiliki kompetensi sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni, agar mampu memanfaatkan teknologi serta data, demi mendongkrak kualitas pembangunan sumber daya publik. Teknologi juga berfungsi sebagai filter untuk menjernihkan arus informasi yang kerap simpang siur di tengah masyarakat.
“Fasilitas ini menyaring informasi yang kabur menjadi informasi terang-benderang. Bermanfaat dan mudah diakses oleh masyarakat,” tambahnya.
Dalam arahannya, Mahyunadi memberikan catatan sekaligus harapan besar bagi pengelola portal digital di tingkat desa dan perangkat daerah. Ia menegaskan agar website pemerintahan berhenti berfungsi sekadar sebagai papan pajangan kegiatan seremonial semata.
“Website kita tidak boleh hanya menjadi etalase berita dan dokumentasi kegiatan. Tetapi harus menjadi media informasi dan pelayanan publik yang adaptif, informatif, mudah diakses, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat, tentunya di masa AI ini,” tegasnya.
Agar tidak monoton dan cepat ditinggalkan pengunjung, ia juga mendorong para pengelola situs web untuk menyisipkan kreativitas dan inovasi di dalam platform digital tersebut. Sehingga memberikan pengalaman yang segar dan tidak membosankan.
Ia menegaskan, target Kutim jauh melampaui sekadar predikat daerah yang melek teknologi. Maka itu, pemanfaatan teknologi harus berorientasi langsung pada peningkatan kesejahteraan dan daya saing masyarakat luas.
“Terlebih dengan bergabungnya sejumlah dinas ke dalam ekosistem website digital ini,” pungkasnya. (adv/yp)










