RUANGKALTIM.COM, KUTIM – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) merupakan salah satu daerah yang memiliki kerawanan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hal ini menjadi perhatian serius oleh banyak pihak. Baik pemerintahan hingga swasta. Tak jarang berkolaborasi mengantisipasi terjadinya karhutla dengan berbagai cara.
Berdasarkan data yang disampaikan Polres Kutim kepada Purkoindo, sejak Januari hingga April 2026, sudah terjadi 219 titik panas. Informasi tersebut disampaikan oleh Kapolres Kutim AKBP Fauzan Arianto bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), TNI, pemerintah kecamatan, dan beberapa perusahaan, saat acara Apel Siaga dan Simulasi Pemadaman Karhutla dalam rangka pencegahan di wilayah Kutim.
Apel Siaga dan simulasi terpadu yang digelar di lapangan Desa Karya Bakti, Kecamatan Muara Wahau, Selasa (21/4/2026) ini, diinisiasi oleh perusahaan Sinarmas Group, Astra Group dan DSN Group, yang ada di sekitar Kecamatan Muara Wahau, Kongbeng dan Telen.
Inisiatif itu bukan tanpa alasan. Indonesia pernah menghadapi bencana karhutla besar dalam sejarahnya. Di antara tahun 1984, 1987, 1998, serta masa El Nino tahun 2015. Bahkan data mencatat penurunan signifikan luas karhutla: dari 2,6 juta hektar pada 2015, menjadi 1,6 juta hektar (2019), 1,1 juta hektare (2023), dan 24.154 hektare pada tahun 2024, atau turun 74 persen dibanding tahun sebelumnya.BMKG juga memprediksi curah hujan di Kaltim turun 20 – 40 persen dari normal. Artinya, musim kemarau datang lebih cepat dan lebih panjang. Awal 2026 BPDB Kaltim mencatat sudah ada 263 titik panas di daerah Kaltim.

Apel siaga ini merupakan bagian penting dan tidak terpisahkan dalam upaya memperkuat kesiapsiagaan, sebagai antisipasi kejadian. Selain itu, apel siaga ini dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi Karhutla. Sesuai koordinasi terpadu antara pemerintah daerah, tim kepolisian dan perusahaan di sekitar Kecamatan Muara Wahau, Kongbeng dan Telen, terkait aktifasi satuan tugas kebakaran hutan dan lahan, secara sinergi dan terpadu antar pelaku usaha di Kutim.
Dengan mengedepankan pendekatan pencegahan dini dan kolaborasi lintas sektor Karhutla. Kali ini, Sinarmas Group regional Kalimantan Timur bekerja sama dengan berbagai perusahaan. Antara lain DSN Group, Astra Group, TNI, Polri serta Forkopimcam Muara Wahau, Kongbeng dan Telen. Pagelaran apel siaga dan simulasi tanggap darurat ini menjadi wujud nyata sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, aparat keamanan negara, masyarakat dan perusahaan. Sebagai upaya pelestarian lingkungan serta keselamatan bersama.

Kapolres Kutim AKBP Fauzan Arianto, menekankan pentingnya kewaspadaan dan kesiapan seluruh pihak dalam menghadapi musim kemarau yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran. Ia mengingatkan bahwa penanganan kebakaran bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama. Termasuk perusahaan yang beroperasi di wilayah rawan kebakaran.
“Mari wujudkan sinergi dan kepedulian kita terhadap kelestarian lingkungan serta keselamatan masyarakat,” katanya.
Berdasarkan data yang disampaikannya, 219 titik panas di Kutim sebagian besar terjadi di wilayah Kongbeng, Muara Wahau, Telen, Bengalon dan di wilayah Sangatta. Ia pun menghimbau seluruh elemen masyarakat, mulai dari RT, RW, desa, kelurahan, kecamatan dan seluruh lapisan masyarakat, untuk meningkatkan kewaspadaan dan kepedulian.
“Lebih baik kita mencegah daripada mengobati. Pencegahan secara dini diperlukan,” tambah AKBP Fauzan Arianto.

Komitmen bersama pencegahan dan penanggulangan karhutla dilengkapi penandatanganan dan disepakati oleh perusahaan, masyarakat melalui Kelompok Tani Peduli Api, Forkopimcam Muara Wahau, Kongbeng dan Telen, serta jajaran TNi dan Polri.
Setelah itu, dilakukan simulasi pemadmaan karhutla dengan peserta aparat penegak hukum, tim kesiapsiagaan tanggap darurat dari perusahaan Sinarmas, Astra dan DSN, serta tim tanggap darurat dari desa. Skenario pembakaran lahan dan diamankan oleh aparat hukum dan tim tanggap darurat Sinarmas Group, Astra Group dan DSN, serta tim tanggap darurat dari desa. Dukungan juga dilakukan dengan menyiapkan sarana dan prasarana pendukung. Seperti peralatan pemadam, tim tanggap darurat, serta patroli rutin di area operasional.
Simulasi ini bertujuan untuk pengecekan kesiapan personel dan peralatan, serta simulasi penanganan kebakaran. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa seluruh tim siap bertindak cepat dan tepat apabila terjadi keadaan darurat.
Selain penyediaan sarana prasarana tanggap darurat, Sinarmas Group juga telah menggunakan dome tower system (DTS) untuk deteksi dini karhutla. Sebagai menara pantau yang dipasangi kamera CCTV 360° dan sensor untuk memantau asap/api dari jarak jauh, agar areal perusahaan dan desa terdekat juga ikut terpantau.
Dengan adanya Apel Siaga Api ini, diharapkan terjalin kerja sama yang solid antara perusahaan, masyarakat dan aparat keamanan negara dalam menjaga lingkungan dari ancaman kebakaran. Upaya pencegahan yang dilakukan secara bersama-sama diyakini akan lebih efektif dalam mengurangi risiko serta dampak yang ditimbulkan. (rk)









