RUANGKALTIM.COM, KUTIM — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur terus berinovasi dalam memberikan pelayanan terbaik bagi para pelajar, salah satunya melalui penyediaan fasilitas transportasi gratis berupa bus sekolah. Kehadiran moda transportasi khusus ini merupakan wujud nyata kepedulian pemerintah daerah dalam mempermudah mobilitas siswa menuju lembaga pendidikan.
Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur, Akhmad Ashari, menjelaskan bahwa operasional bus sekolah ini merupakan realisasi program langsung dari Bupati Kutai Timur. Kendati demikian, untuk tahap awal, layanan ini baru bisa dioperasikan dalam jumlah yang sangat terbatas akibat adanya penyesuaian efisiensi anggaran daerah.
Saat ini, armada bus sekolah yang tersedia baru berjumlah satu unit hasil kerja sama strategis dengan Dinas Perhubungan. Dengan keterbatasan armada tersebut, rute penjemputan siswa harus difokuskan pada titik yang paling membutuhkan, yakni SMAN 2 Sangatta Utara yang berada di Jalan Soekarno-Hatta, mengingat kawasan tersebut belum dilalui oleh trayek angkutan umum atau taksi kota.
“Kemarin kita kerja sama dengan Dinas Perhubungan. Nah, makanya yang baru bisa diakomodir itu SMAN 2 yang di Soekarno Hatta itu. Karena bus itu cuma satu. Karena di SMAN 2 itu tidak ada jalur taksi atau angkutan umum. Jadi kita fokuskan bus sekolah itu ke SMA 2 Sangatta Utara, kita push-kan ke situ,” ujar Akhmad Ashari.
Ia menambahkan, meskipun terdapat beberapa sekolah lain seperti tingkat SMP di wilayah pinggiran yang juga membutuhkan sarana transportasi serupa, prioritas saat ini tetap diberikan kepada SMAN 2 Sangatta Utara. Pemerintah berharap ke depannya alokasi anggaran daerah dapat kembali meningkat sehingga penambahan jumlah armada bus sekolah dapat segera direalisasikan untuk menjangkau lebih banyak pelajar di berbagai wilayah.
Kendati demikian, pihak Disdikbud tetap realistis terkait kapasitas muat armada yang ada saat ini. Dengan daya tampung bus yang hanya sekitar 28 orang, sementara jumlah total siswa di sekolah tersebut mencapai ribuan, layanan ini belum mampu mengakomodasi seluruh pelajar secara sekaligus dan akan diatur secara bergilir.
“Kalau nanti ada tambahan, mungkin baru kita bisa ke SMP atau ke SD. Karena bus ini cuma satu. Itu pun mungkin tidak bisa mengakomodir semua murid di situ. Itu kan kalau nggak salah hanya 28 orang kapasitasnya, muridnya di sana juga ribuan. Mungkin nggak bisa menjangkau semuanya. Sebenarnya maunya Bupati itu bukan hanya satu unit, tapi karena ada efisiensi anggaran jadi satu unit dulu,” pungkasnya. (adv/yp)










