
RUANGKALTIM.COM, KUTIM – Isu ketimpangan pembangunan di Kecamatan Sandaran, yang terletak di wilayah pesisir Kutai Timur (Kutim), tidak hanya meliputi infrastruktur. Tetapi juga merambah sektor pendidikan. Anggota DPRD Kutim, Akhmad Sulaiman dari daerah pemilihan (dapil 5) secara terbuka mengakui bahwa pendidikan di Sandaran masih sangat tertinggal jika dibandingkan dengan perkotaan.
Ia mengungkapkan, dirinya telah berupaya maksimal untuk memberikan perhatian khusus pada sektor ini melalui alokasi pokir.
“Saya tidak mengatakan luar biasa, saya sudah memastikan bahwa 30 persen dari pokir saya sudah dialokasikan untuk pendidikan di sana. SD, SMP, semuanya ada. Memang tidak bisa secara keseluruhan. Tapi kalau perhatian, saya berharap untuk Kecamatan Sandaran juga bisa diangkat untuk masalah pendidikan. Saya merasa memang juga tertinggal,” ujarnya.
Pernyataan ini menguatkan pandangan bahwa Sandaran menghadapi ketertinggalan di segala segi, termasuk pendidikan. Bahkan sangat kontras signifikan dengan fasilitas yang ada di Kota Sangatta.
Selain masalah fasilitas dasar, ia juga tersebut menyoroti masalah teknis yang ironis terkait program unggulan Pemerintah Kabupaten, yaitu Beasiswa Stimulan Kutim Cemerlang Rp25 miliar. Meskipun beasiswa tersebut wajib disalurkan dan sampai kepada murid-murid di Sandaran, proses pencairannya menimbulkan kendala besar dan kerugian bagi penerima.
“Jaraknya sangat jauh. Satu-satunya bank yang melayani pencairan beasiswa berada di Sangkulirang. Biaya transportasi bagi siswa di Sandaran, seperti dari Desa Menubar, perjalanan untuk mencairkan dana beasiswa yang rata-rata hanya Rp1 juta dan cukup menghabiskan biaya transportasi yang sangat besar,” ungkap Sulaiman.
“Karena satu-satunya Bank ada di Sangkulirang. Jadi kalau dicairkan hanya satu juta setiap siswa, kalau mereka ke Sangkulirang, separuh dari itu sudah habis,” tambahnya.
Ia pun mendesak Pemkab Kutim untuk segera memikirkan solusi dan sistem pencairan yang lebih efektif dan efisien. Jika tidak, tujuan beasiswa untuk membantu meringankan beban pendidikan siswa di Sandaran akan sia-sia.
“Sebagian besar dana habis untuk biaya transportasi,” pungkasnya. (adv/rk)










