RUANGKALTIM.COM, KUTIM — Struktur perekonomian Kabupaten Kutai Timur selama ini dikenal sangat bergantung pada dinamika sektor pertambangan, batu bara, dan migas. Menyadari tingginya kerentanan akibat ketergantungan pada sumber daya alam tak terbarukan tersebut, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur bergerak cepat merumuskan strategi besar untuk mendorong transformasi ekonomi yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.
Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, secara terbuka memaparkan tantangan makroekonomi daerah. Pada tahun 2025 lalu, laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Kutai Timur tercatat berada di angka 1,05%. Kondisi ini menjadi catatan dan perhatian serius bagi jajaran pemerintah daerah, mengingat fluktuasi komoditas global sangat berdampak langsung terhadap pergerakan ekonomi regional.
Sebagai langkah responsif, Pemkab Kutim telah menetapkan target pemulihan dan akselerasi ekonomi yang progresif dalam dokumen perencanaan daerah. Melalui Perubahan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2026, laju pertumbuhan ekonomi ditargetkan merangkak naik pada kisaran 2,40% hingga 2,90%.
Tidak berhenti di situ, target yang jauh lebih ambisius dipatok dalam rancangan RKPD Tahun 2027 mendatang, di mana perekonomian Kutai Timur ditargetkan mampu melompat kuat pada kisaran 5,00% sampai dengan 6,00%.
“Kita menyadari bahwa kondisi perekonomian Kutai Timur masih menghadapi tantangan yang cukup besar. Pada tahun 2025, laju pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 1,05%. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah, mengingat struktur ekonomi daerah kita masih dipengaruhi oleh dinamika sektor-sektor berbasis sumber daya alam seperti pertambangan, batu bara, dan minyak,” ungkap Ardiansyah.
Ardiansyah menegaskan bahwa target pertumbuhan ekonomi tinggi tersebut bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan wujud tekad kuat pemerintah untuk melepaskan diri dari bayang-bayang sektor ekstraktif semata. Arah kebijakan pembangunan ekonomi kini diseriusin untuk memperkuat sektor-sektor basis kerakyatan dan produktif, seperti pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, pariwisata, industri pengolahan, serta sektor ekonomi kreatif.
Transformasi ekonomi ini dirancang agar kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Kutai Timur tidak sekadar mendatangkan nilai ekonomi instan saat dieksploitasi, melainkan mampu meneteskan multiplier effect yang luas. Pemerintah bertekad menciptakan nilai tambah produk lokal, membuka seluas-luasnya lapangan kerja baru, serta menjamin kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.
“Kita ingin sumber daya alam yang kita miliki tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi pada saat dieksploitasi, tetapi mampu menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang,” pungkas nya. (adv/yp)










