RUANGKALTIM.COM, KUTIM — Menjaga estetika dan ketertiban tata kota di satu sisi, sambil tetap menjaga denyut nadi ekonomi kerakyatan di sisi lain, tentu bukanlah perkara mudah. Tantangan inilah yang kini tengah dihadapi oleh jajaran Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Kutai Timur dalam menyikapi maraknya aktivitas pedagang kaki lima (PKL) yang menggelar lapak di atas trotoar ruas jalan protokol pada malam hari, seperti di kawasan Jalan APT Pranoto dan sekitarnya.
Kepala Satpol PP Kabupaten Kutai Timur, Fata Hidayat, mengungkapkan bahwa pihaknya tidak menutup mata terhadap dinamika ekonomi masyarakat. Di tengah situasi pemulihan ekonomi pasca badai krisis, pemerintah daerah senantiasa mengedepankan pendekatan humanis dalam setiap penertiban yang dilakukan di lapangan. Kendati demikian, petugas tetap konsisten memberikan pengarahan agar para pedagang tidak mengabaikan hak-hak pejalan kaki maupun ketertiban umum.
“Nah, itu sudah diingatkan. Cuma di satu sisi, kita ini masih melihat dari segi manusianya, sementara ekonomi lagi susah. Cuma kami berkali-kali itu mengingatkan pada saat mereka di lapangan, kita sampaikan tolong untuk tidak menghalangi jalan orang di trotoar,” ujarnya.
Ia menambahkan, meski aktivitas berjualan pada malam hari di beberapa titik dinilai tidak terlalu signifikan mengganggu arus lalu lintas karena kondisi jalan yang cenderung lenggang, aspek keselamatan dan kenyamanan publik tetap harus dijaga. Terlebih lagi apabila ada penyelenggaraan event tertentu, para pedagang diimbau agar lebih tertib dan mampu mengkondisikan lapak dagangannya supaya tidak sampai menutup badan jalan.
Kemudian, ketika disinggung mengenai perlunya instrumen regulasi yang lebih mengikat seperti penerbitan Surat Edaran resmi, Fata menyatakan bahwa pihaknya akan segera melakukan evaluasi lanjutan dan memperkuat imbauan tersebut. Kebijakan penataan ini juga diselaraskan secara cermat dengan visi pembangunan daerah yang dicanangkan oleh Bupati Kutai Timur.
“Karena ini masih sifatnya mengingatkan dan saya melihat pertumbuhan ekonomi sudah mulai naik sementara ini, meski kita sempat dilanda badai ekonomi. Jadi kita juga menyelaraskan apa yang menjadi program Pak Bupati, tapi kita juga tidak menutup mata tentang mereka. Bahkan kami berharap mereka itu taat,” jelasnya.
Lebih lanjut, Fata memaparkan impian jangka panjang terkait wajah ibu kota kabupaten. Ia berharap tingkat kesadaran hukum dan ketertiban masyarakat di Kutai Timur dapat tumbuh dari kesadaran kolektif, sehingga keindahan tata kota yang rapi dan tertib bukan sekadar cerminan kinerja aparat, melainkan cerminan budaya masyarakat yang taat aturan.
“Jadi pada saat orang luar masuk ke Kutim, mereka melihat tata kelola kotanya tertata rapi, artinya bukan Satpol PP-nya yang bagus, tapi masyarakatnya yang taat hukum dan tertib. Kami harapannya begitu,” pungkasnya. (adv/yp)










