RUANGKALTIM.COM, KUTIM – Roda organisasi Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memasuki babak baru. Ajang Musyawarah Cabang (Muscab) FORKI Kutim tahun 2026 resmi digelar di Hotel Five Style Kutai Permai pada Kamis, 30 Juli 2026, menjadi momentum penting untuk merumuskan arah pembinaan prestasi karate ke depan.
Dalam proses penjaringan bakal calon ketua, nama Sayid Anjas kembali mencuat sebagai salah satu figur kuat yang mendaftarkan diri. Menanggapi proses demokrasi di dalam tubuh organisasi, Anjas menyerahkan sepenuhnya mekanisme pemilihan kepada panitia penyelenggara dan para pemilik suara dari berbagai perguruan.
“Biarkanlah proses untuk ini berjalan, saya nggak tahu juga bakal bagaimana. Cuma saya kan salah satu yang mendaftar, saya belum tahu juga nih apakah ada calon lagi yang mendaftar. Nanti kita serahkan ke panitia, biar mereka yang melaksanakan,” ujar Sayid Anjas di sela-sela kegiatan Muscab.
Ia menambahkan, jika dalam proses verifikasi nantinya hanya dirinya seorang diri yang maju bursa pencalonan, maka penetapan akan dilakukan secara aklamasi. Namun, apabila ada kader lain dari internal pengurus maupun perguruan yang turut mendaftar, mekanisme pemilihan terbuka siap ditempuh sesuai dengan normatif organisasi.
Jika kembali dipercaya memegang estafet kepemimpinan sebagai Ketua FORKI Kutim, Anjas mematok target yang jauh lebih tinggi. Evaluasi mendalam dari kinerja 5 tahun ke belakang menjadi landasan utama agar prestasi karate Kutim kian bertajuk positif.
Pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) sebelumnya di Berau, FORKI Kutim sukses mengamankan pundi-pundi medali dengan raihan 2 emas, 2 perunggu, dan 2 perak dari total 12 nomor tanding yang diikuti, meliputi kelas kata dan kumite, baik kategori putra, putri, tunggal, maupun beregu. Menatap Porprov Paser mendatang, Anjas dengan tegas memasang target kenaikan perolehan medali emas.
“Targetnya ya, naik lebih daripada dua lah. Karena ini menjadi bahan evaluasi kami dari 5 tahun belakangan ini, supaya ke depan prestasi karate ini bisa lebih baik dari yang kemarin,” ungkapnya optimis.
Ada pemandangan dan strategi berbeda yang diusung FORKI Kutim untuk gelaran Porprov kali ini. Jika pada edisi sebelumnya sempat menerapkan pola kolaborasi dengan merekrut atlet dari luar daerah, tahun ini kepengurusan memilih langkah mandiri yang lebih menantang. FORKI Kutim berkomitmen untuk tampil 100 persen mengandalkan potensi anak-anak asli Kutai Timur hasil pembinaan dari perguruan-perguruan lokal.
Kendati menyadari adanya celah tantangan dari segi kuantitas atlet cadangan jika disandingkan dengan daerah tetangga seperti Samarinda atau Balikpapan yang memiliki kolam talenta jauh lebih masif, Anjas memastikan hal tersebut tidak sedikit pun menyurutkan mental bertanding anak asuhnya.
“Cuma problemnya satu, kami tahun ini tidak lagi ngambil atlet dari luar. Kalau dulu kan kolaborasi, sekarang ini murni dari anak-anak Kutai Timur. Minusnya, kita mungkin kalah banyak sama Samarinda dan Balikpapan yang jumlah atletnya banyak dan punya banyak pilihan. Kalau di Kutim sedikit, paling satu-dua saja tidak ada lagi cadangannya. Tapi itu tidak apa-apa, artinya itu tidak mengurangi semangat kami untuk bertanding,” beber Anjas.
Di tengah dinamika persiapan daerah menuju Porprov Paser, sempat berhembus isu terkait wacana efisiensi yang memuat pengurangan cabang olahraga dari 64 menjadi 50. Menanggapi hal tersebut, Anjas memastikan bahwa cabor karate tidak akan terpengaruh oleh wacana tersebut.

Berdasarkan koordinasi bersama pihak Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kutim, wacana yang berkembang saat ini lebih mengarah pada penyesuaian jumlah nomor tanding ketimbang pencabutan cabor secara utuh. Terlebih, kedudukan FORKI sebagai cabor prioritas dan cabang yang telah lama dipertandingkan di ajang resmi sekelas PON menempatkan posisi mereka pada jalur aman.
“Yang pasti sejauh ini karate, FORKI itu belum ada pengurangan nomor tanding, maupun tidak juga dihilangkan. FORKI masih jalan aja, tidak berpengaruh,” pungkasnya. (yp/rk)










