
RUANGKALTIM.COM, KUTIM – Fenomena siswa laki-laki yang menunjukkan gestur “gemulai” di lingkungan sekolah menjadi perhatian banyak pihak. Menanggapi hal ini, Anggota DPRD Kutai Timur, Novel Tyty Paembonan memberikan pandangan yang bijak, dengan mengedepankan pendekatan humanis. Namun tetap lakukan pembinaan karakter yang tepat.
Legislator Partai Gerindra itu menekankan, penampilan fisik atau gestur tubuh tidak serta-merta menentukan masa depan atau produktivitas seseorang. Dalam pandangannya, masyarakat diminta tidak buru-buru memberi stigma negatif. Ia mencontohkan figur publik seperti dr Boyke.
“Kita kenal dokter Boyke, beliau mungkin terlihat gemulai, tapi beliau seorang ahli kandungan yang hebat, produktif, dan memiliki keluarga yang utuh. Ini soal hak asasi manusia (HAM), setiap orang punya pilihan ekspresi,” ujarnya.
Meski menghargai HAM, ia menilai pembinaan tetap diperlukan jika perilaku tersebut dinilai memberi dampak kurang baik atau perlu penguatan mental. Novel menyarankan ada dua pendekatan yang perlu dilakukan, disiplin dan psikologis.
“Pelatihan ala semi-militer seperti peraturan baris-berbaris (PBB) dinilai sah-sah saja dilakukan. Untuk melatih ketegasan fisik dan mental siswa. Kemudian, peran guru bimbingan konseling (BK) di sekolah harus lebih aktif melakukan komunikasi personal dan konseling kepada siswa,” ungkap Novel.
Ia mengingatkan bahwa sekolah hanyalah lingkungan kedua. Faktor pembentuk utama karakter anak, baik secara genetik maupun perilaku, adalah lingkungan keluarga.
“Paling banyak waktu anak itu bersama orang tua. Jadi peran orang rumah sangat krusial. Lingkungan sangat mempengaruhi, meskipun ada faktor genetik, jika ditempa di lingkungan yang tegas, karakter anak bisa terbentuk,” pungkasnya. (adv/rk)










