RUANGKALTIM.COM, KUTIM – PT Pamapersada Nusantara Site KPC Coal Mining Project bersama Yayasan Astra – Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA), kembali melaksanakan kegiatan pemberdayaan bagi pelaku usaha tani binaan.
Kali ini, melalui Pelatihan Pengenalan dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Pertanian yang digelar di Ruang Meeting Kantor Kecamatan Bengalon, Sabtu (5/7/2025).
Pelatihan diikuti oleh 20 UMKM binaan LPB Pama Banua Etam, dan menghadirkan Andi Mariyani dari STIPER Kutai Timur sebagai instruktur. Kegiatan juga dihadiri oleh CSR PT Pamapersada Nusantara Jobsite KPC Coal Mining Project, Ishak Pardede. Termasuk Koordinator LPB Pama Banua Etam Hendra, serta tim fasilitator LPB.
Melalui pelatihan ini, peserta dibekali pengetahuan untuk mengenali berbagai jenis organisme pengganggu tanaman serta metode pengendaliannya yang ramah lingkungan.
Penerapan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), menjadi salah satu fokus utama dalam menjaga keseimbangan ekosistem pertanian dan meningkatkan produktivitas hasil panen.

“Terima kasih kepada para petani binaan LPB Pama Banua Etam yang telah berpartisipasi. Kami berharap pelatihan ini dapat menambah wawasan dan keterampilan dalam mengenali serta menanggulangi serangan OPT di lapangan,” ujar Ishak Pardede, perwakilan CSR PT Pamapersada Nusantara Jobsite KPC Coal Mining Project.

Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kemampuan petani dalam menerapkan praktik pertanian berkelanjutan, menjaga kesehatan tanaman, dan mendukung peningkatan kualitas hasil pertanian di wilayah Kutai Timur.
Sebelumnya, Program bertajuk Pendampingan Pengenalan & Penanggulangan OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan), juga digelar PAMA menyasar 10 UMKM petani binaan Astra di dua lokasi, yakni Sangatta Selatan dan Bengalon.
Saat pendampingan, petani diajak mengevaluasi proses pengendalian OPT Padi Sawah yang sudah dilakukan. Ditemukan bahwa petani masih belum memahami penggunaan jenis pestisida, dan peran rantai makanan dalam ekosistem sawahnya.
Program pendampingan yang diinisiasi PAMA ini, bukan sekadar pelatihan teknis. Melainkan investasi jangka panjang yang diharapkan dapat mengubah paradigma petani dalam mengelola pertanian. Selama ini, ketergantungan pada pestisida kimia menjadi solusi instan yang sering kali menimbulkan masalah baru.
Dengan mengenalkan metode pengendalian hama terpadu yang ramah lingkungan, petani diajak untuk berpikir lebih holistik. Mereka belajar memahami siklus hidup hama dan menemukan solusi berkelanjutan yang tidak merusak keseimbangan alam.
Tidak hanya menghemat biaya operasional, karena tidak perlu membeli pestisida mahal. Tetapi juga menciptakan lingkungan sawah yang lebih sehat dan subur, yang pada akhirnya akan meningkatkan hasil panen dan kesejahteraan petani secara signifikan. (rk)










