
RUANGKALTIM.COM, KUTIM — Warisan sejarah dan kebudayaan lokal Kabupaten Kutai Timur kini bersiap tampil dengan wajah baru yang lebih segar dan kekinian. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim secara resmi menghelat Workshop Storytelling dan Digital Content Sejarah Lokal di Hotel Zenova Royale, Rabu, 9 September 2026.
Kegiatan strategis ini digagas berdasarkan amanat Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan serta Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Disdikbud 2026. Meski tahap awal ini baru menjaring sebanyak 15 orang peserta terpilih dari jenjang SMA, SMK, dan MA yang mencakup wilayah Sangatta Utara, Sangatta Selatan, hingga Sangkulirang, pemerintah optimis gerakan literasi sejarah ini akan meluas secara masif di masa mendatang.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim, Ilham, memaparkan bahwa para peserta yang hadir merupakan delegasi pilihan dari berbagai sekolah unggulan. Di antaranya SMAN 1 dan SMAN 2 Sangatta Utara, SMKN 1 dan SMKN 2 Sangatta Utara, SMA YPPSB, SMA IT Darussalam, SMK Muhammadiyah, SMAN 1 dan SMAN 2 Sangatta Selatan, SMK Singa Geweh, MA Nurul Hikmah, hingga SMKN 1 Sangkulirang.
“Harapan kami, kegiatan storytelling ini menjadi awal yang baik. Ke depan, jangkauan peserta bisa terus bertambah, tidak hanya di tingkat menengah atas, tetapi juga menyasar jenjang SMP dan SD,” ujar Ilham.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, memberikan suntikan semangat penuh kepada para pelajar yang hadir. Ia meyakini bahwa kuantitas yang terbatas tidak menyurutkan potensi besar untuk menciptakan dampak yang luas bagi daerah.
“Walaupun hanya sedikit, tapi saya rasa 15 orang ini akan bisa mengguncang Kutai Timur nantinya,” tegas Mulyono dengan nada semangat.
Ia menekankan bahwa Kutai Timur kaya akan warisan kebudayaan, mulai dari situs budaya benda, ragam ritual adat, hingga berbagai event rutin daerah. Namun, di era digital saat ini, cara penyampaian sejarah harus bertransformasi agar relevan dengan generasi muda. Kombinasi antara seni bertutur (storytelling) dan pemanfaatan platform konten digital seperti TikTok dinilai sebagai kunci utama untuk merangkai sejarah lokal menjadi narasi yang menarik.
Melalui pelatihan ini, para pelajar dipersiapkan menjadi agen perubahan yang mampu mengangkat dan mempromosikan kekayaan sejarah, kebudayaan, pesta adat, hingga sektor pariwisata Kutai Timur ke ruang digital. Langkah progresif ini diyakini tidak hanya melestarikan identitas daerah, tetapi juga bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Kutai Timur secara keseluruhan. (adv/yp)










