RUANGKALTIM.COM, KUTIM – Dalam rangka memperkuat basis data ketahanan pangan daerah, PT Pamapersada Nusantara Site KPC Mining Coal Projects area Bengalon, melalui Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Pama Banua Etam, bersinergi dengan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kutai Timur melakukan kegiatan Pengubinan Sawah.
Pengambilan sampel panen ini dilaksanakan Rabu (01/04/2026), di lahan Kelompok Tani (Poktan) Bina Warga, Desa Sepaso Barat, Kecamatan Bengalon. Titik lokasi pengubinan menyebar di sejumlah area sawah milik anggota kelompok tani, di antaranya lahan milik Sakir dan Kartini.
Langkah pencatatan data aktual ini menjadi sangat relevan, jika ditarik ke dalam konteks dinamika pertanian padi nasional dan global saat ini. Di tingkat global, ancaman krisis iklim yang memicu cuaca ekstrem, fluktuasi harga pupuk, serta disrupsi rantai pasok dunia, telah memaksa banyak negara untuk membatasi ekspor pangan mereka.
Hal ini menjadi peringatan keras bagi Indonesia, yang selama ini masih berjuang menyeimbangkan antara produksi beras dalam negeri dan kuota impor.
Secara nasional, pemerintah Indonesia tengah gencar memacu program swasembada pangan untuk mengurangi ketergantungan dari luar, di tengah penyusutan lahan pertanian produktif. Dalam situasi makro yang menantang ini, akurasi data panen dari daerah, seperti yang dilakukan di Kutai Timur, menjadi ujung tombak bagi negara untuk memitigasi risiko kelangkaan beras. Termasuk merumuskan kebijakan distribusi, serta menakar kekuatan ketahanan pangan riil Nusantara.

Karena itulah, pihak BPS Kutai Timur yang turun langsung ke lapangan menjelaskan bahwa metode pengubinan ini sangat krusial untuk mendapatkan angka proyeksi panen yang presisi di tingkat daerah penyangga.
“Pengambilan data potensi panen sawah melalui proses ubinan padi sawah, saat ini masih menjadi metode paling mendekati angka aktual yang kami lakukan. Petani pun mengakui kedekatan hasil dengan perhitungan setelah panen, dengan catatan tidak ada keadaan kahar (force majeure) masih di 4,2 ton GKP per hektare di sini,” jelas perwakilan tim BPS Kutai Timur.
Pentingnya keakuratan data ini juga diamini oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) setempat. Oktasari Ardiyanti, selaku PPL Poktan Bina Warga, menyebutkan bahwa angka yang dihasilkan dari pengubinan sangat membantu instansi dan pendamping dalam merumuskan ketepatan kebijakan ke depan.
“Data ini juga perlu menjadi acuan manakala menyusun rencana program di setiap tahunnya. Membantu program-program yang disusun lebih tepat sesuai dengan kebutuhan petani kami,” ungkap Oktasari.
Bagi PAMA dan LPB Pama Banua Etam, keterlibatan dalam kegiatan ini bukan sekadar pendampingan rutin. Melainkan alat ukur evaluasi dari program pembinaan corporate social responsibility (CSR) yang telah berjalan.
Sri Supriadi, Officer CSR PT Pamapersada Nusantara Site KPC Mining Coal Projects Bengalon menyampaikan, momen panen adalah tolak ukur nyata dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) petani binaan dalam merespons tantangan iklim dan ekonomi.
“Ini pengambilan data di musim tanam pertama tahun ini. Kami dampingi proses ubinan juga untuk melihat dampak dari program-program yang kami lakukan dari segi peningkatan SDM, khususnya petani,” tuturnya.
Lebih lanjut, hasil dari pengubinan ini akan langsung diintegrasikan dengan program strategis LPB Pama Banua Etam di tahun 2026. Data lapangan tersebut akan digunakan untuk mengevaluasi biaya pengolahan lahan dan aspek teknisnya, serta merancang agenda perbaikan pada proses pasca-panen padi sawah.
“Sehingga kehilangan hasil panen (food loss) dapat ditekan semaksimal mungkin,” pungkasnya. (rk)










