
RUANGKALTIM.COM, KUTIM – Kondisi infrastruktur di Daerah Pemilihan (Dapil) 4 Kutai Timur menunjukkan disparitas yang jelas. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Aidil Fitri menyatakan bahwa sementara Kecamatan Wahau dan Kongbeng memiliki kondisi jalan dan fasilitas yang lebih baik jika dibandingkan dengan Kecamatan Telen, yang dianggapnya masih tertinggal jauh.
Keterlambatan pembangunan di Telen ini bukan tanpa alasan. Bukan pula disebabkan oleh ketiadaan alokasi anggaran. Melainkan karena tantangan geografis yang ekstrem.
Aidil menjelaskan, Kecamatan Telen memiliki delapan desa yang letaknya terpencar dan terpisah oleh dua sungai. Sehingga membuat upaya konektivitas membutuhkan biaya yang mahal dan rumit.
“Kecamatan Telen ini agak ketinggalan infrastrukturnya ketimbang Wahau dengan Kongbeng. Ini karena desanya nggak ngumpul, ada sungai yang jadi pemisah,” jelasnya.
Selain itu, beberapa desa berada di blok daratan terpisah. Seperti Batu Redi, satu daratan dengan Juk Ayak. Ada pula Marah Halok, yang satu daratan dengan Rantau Panjang. Sisanya, seperti Long Melah, Long Segar, dan Long Noran, berada di hamparan yang sama.
“Namun dipisahkan oleh dua sungai besar,” ungkapnya.
Legislator Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu pun sangat berharap, proyek jembatan strategis yang telah diusulkan, yakni Jembatan Telen dan Marah Halok-Long Melah, dapat menjadi solusi akhir. Targetnya, pada tahun 2027, proyek-proyek ini dapat rampung sepenuhnya.
“Dengan terhubungnya semua desa yang terisolasi itu, diharapkan mobilitas masyarakat dan aktivitas perekonomian di Telen akan meningkat secara signifikan,” pungkasnya. (adv/rk)










